Rabu, 09 Juli 2008

KISAH TIGA ORANG PEREMPUAN

Tabloid Republika Dialog Jumat, 27 Juni 2008

Berada di tempat yang keliru bagi orang salehah seperti Wulan, ternyata akan menjadi masalah besar di kemudian. Gadis berkerudung yang menenteng kopor impian ke Jakarta itu berikhtiar ingin menjadi pembantu rumahtangga. Keinginannya hanya satu mendapatkan uang untuk mengobati ayahnya yang sakit dan adiknya yang butuh biaya sekolah.

Di hari pertama di ibukota, bukan uang yang didapatkan tapi razia polisi. Wulan rupanya menginap di tempat yang salah, apalagi kalau bukan lokalisasi. Penangkapan Wulan menghiasi pemberitaan televisi. Tetangganya di kampung pun langsung mencapnya sebagai pelacur.

Kejadian yang menimpa Wulan hanya satu penggalan cerita dari dua tokoh lainnya yang ditampilkan dalam buku yang berjudul ‘Kabar Bunga’ yakni Sabrina dan Asih.

Ketiga tokoh tersebut begitu apik diuntai oleh Marsiraji Thahir dengan bahasa lugas dan menarik sehingga pembaca seperti disuguhi sebuah tontonan yang menguras perasaan. Buku yang layak dibaca kaum perempuan itu mencoba mendeskripsikan kisah tiga perempuan dengan tiga nasib dan tiga narasi yang dipisah ruang serta waktu, pada awalnya.

Jika Wulan dari golongan miskin, maka Sabrina sebaliknya. Dia hidup bergelimang harta. Namun kekayaan yang diberikan orangtuanya tidak membuatnya bahagia. Ia berusaha menemukan kebahagiaan itu namun kemalangan menimpanya kembali.

Asih tokoh dalam buku tersebut hidupnya sungguh memilukan. Di usia remaja, orangtuanya yang miskin justru menjual anak gadisnya itu pada seorang lelaki. Malangnya lelaki yang ‘memakainya’ itu justru meninggalkan janin di perutnya.

Meski ketiganya memiliki nasib yang berbeda, penulis yang lahir dan besar di Kendal Jawa Tengah itu mencoba mempertemukan mereka pada tanya yang sama: ibu! Wulan tidak pernah tahu seperti apa ibunya yang sudah meninggal. Sabrina juga tidak tahu mengapa mamanya tidak peduli padanya. Dan Asih punya kegalauan sendiri, adakah ibu yang tega menjual putri kandungnya?

Buku ini cukup menginspirasi kita semua untuk tegar dan tawakal dalam menghadapi perubahan zaman.

Selasa, 06 Mei 2008

SI ETA

Si Eta. Begitulah Murtadho menamakan diri. Nama yang centil. Seakan secara lirik tak berjenis, laki-laki atau perempuan. Namun nama itu cukup jelas dengan nama sebermula katanya yang berasal dari kebalikan kata atheis. Begitulah awal kenapa nama itu tersusun. Bermula sewaktu ia menemukan nama kebanggaan atas dirinya sendiri karena dirinya yang atheis, seperti teman-temannya bilang. Dan seorang Murtadho kini sudah menjadi tenar dengan nama kebanggaannya.

Hampir seluruh teman sekampusnya memanggilnya dengan nama Si Eta. Bahkan ada beberapa temannya yang mengenalnya hanya sebatas Si Eta, tidak mengerti nama aslinya. Ia cukup merasa gagah dan bangga dengan sebutan nama itu. Setiap ada temannya yang memanggil dengan nama Si Eta, ia semakin tersanjung bahwa seorang Murtadho kini setidaknya sudah mendapatkan pengakuan sebagai tokoh materialisme baru, walau masih kecil-kecilan. Namun sudah besar-besaran di mata teman-teman kampusnya.

“Itu lho yang namanya Si Eta!”

“Itu lho mahasiswa yang sedang menyusun karier keatheisannya!”

“Itu lho tokoh materialisme baru di kampus kita!”

Kalimat-kalimat itu selalu terdengar sewaktu ia berjalan melintasi para mahasiswa-mahasiswi yang sedang bergerombol atau ngerumpi.

Namun anehnya! Entah kenapa, satu-satunya hal yang bisa membuatnya tampak lemah, tidak sekuat keatheisannya adalah cinta. Saat cinta bersijingkat riang di dalam jiwanya, ia tampak seperti gudel yang sedang mencari induknya hendak menyusu, atau semisal kelelawar buta yang selalu memaksakan diri keluyuran sewaktu malam. Dan semua itu berlalu dengan ketakmengertian.

Baginya cinta adalah segala-galanya yang berupa api kerinduan, api kasih sayang, matinya kebencian, lahir saling rela, dan nyala kegelapan yang lalu memistik perasaan jadi lava-lava marah hendak muntah. Maka tak heran di hari itu ia mempercepat keberangkatannya ke Stasiun Tugu –satu jam lebih awal- dari jadwal kedatangan kereta yang membawa kekasihnya, Sari. Ia rela menunggu satu jam lebih awal demi seorang kekasih yang baru saja menghabiskan liburan semester genap bersama keluarganya di Surabaya.

Ia duduk santai, sedikit tak berdaya, sambil menghisap rokok. Kedua kakinya terjulur lurus ke atas bangku yang berada di depannya. Kedua alisnya sedikit terangkat ke atas mengikuti kedua matanya yang menerawang. Senyum-senyum kecil terkadang melintas menuntaskan gurindam rasa, entah murka entah suara cinta, ketika jalan pikirannya memetik satu bayang ketakberdayaan di suatu malam yang membuat segalanya jadi lupa. Seakan sedang ada yang menggelitik atau mungkin pesta pora sedang terselenggara di dalam hatinya. Perlahan otaknya mulai menyusun rencana demi rencana yang akan disambut dan harus segera dimuntahkan setelah Sari tiba. Ada semacam kekuatan baru yang akan ia dapatkan setelah tiga bulan ia dan Sari tidah bertemu. Sesaat lagi ia akan terbang bersama Sari setelah tiga bulan pula tidak menerbangkan kebiasaan, sewaktu rindu, yang sudah ia anggap biasa –tanpa merasa sedang berdosa. Si Eta adalah Sari. Sari adalah Si Eta. Di mana ada Si Eta di situ pasti ada Sari. Hampir setiap hari mereka selalu bersama. Hanya saja mereka akan terlihat terpisah saat Si Eta sedang berdemo atau sedang ada rapat di organisasi yang ia pimpin.

Tak terasa berjubel rencana-ingin memberat begitu murka ingin segera mendamparkan ke pelabuhan cinta mereka, satu milik berdua. Yang ajaib, yang serba spektakuler –saling puas. Satu batang rokok gudang garam merah berlalu terhisap perlahan. Dua batang terlampui, menjelang. Menyantap-hisap tak terasa entah berapa batang rokok telah ia habiskan.

Tit tit tit tiitit tit tit tit tiitit …

Suara hp-nya berbunyi. Memecah ketermenungan saat Si Eta melamun.

Satu pesan diterima …

Si Eta segera membuka pesan itu. Seakan para tamu semakin berdatangan untuk sebuah pesta pora di dalam hatinya. Semakin ramai, semakin memerdu nyaring lagu kerinduan yang sedang dinyanyikan pada pesta yang sedang terselenggara.

Alow Tadho … Aku dah hampir sampe nih. Tunggu aku ya … :)

Ada semacam kambium yang mulai merangsang sel-sel komponen tubuh yang ingin semakin mendapatkan suburnya kehidupan. Daun-daun berpupusan. Tunas-tunas meranggas kecil, menyelinap di ketiak-ketiak kehidupan yang perlahan bertumbuhan.

Tapi benarkah Sari masih menjadi Sari? Sejak kapan Sari memanggilku dengan Tadho. Bukankah ia yang membesarkan nama Si Eta untukku? Bukankah ia bangga dengan Si Eta yang atheis itu! Ataukah mungkin hanya semacam lupa, atau memang telah menyengaja lupa bahwa ia sendiri yang mendorongku untuk membawa dan juga menelaah habis pemikiran-pemikiran tokoh-tokoh kebanggaanku. Semacam itu pesta pora sejenak terpenggal di dalam hati Si Eta. Dikatakan heran, juga memang Si Eta sedang tidak mengerti: mengapa ia harus heran sebelum jelas. Dibilang kaget, memang sedikit banyak ada yang merasa janggal dengan sebutan Tadho yang sebenarnya namanya sendiri itu. Entahlah … Si Eta tak meyapa begitu dalam orang yang membawa berita itu ke dalam pesta poranya. Biarlah mereka bergabung bersama mereka yang sedang dimabuk cinta. Lantas terhanyut pada lagu-lagu kerinduan yang membuat masing-masing tak bisa melihat seutuh dirinya dengan sudut pandang dari kedalaman jiwanya yang sakral.

Kereta itu datang. Hampir tidak meleset. Datang dengan ketepatan waktu yang absurd. Udara yang terdorong kereta saat mulai tiba menghembus sepoi seolah ada babak baru yang akan ia jumpai. Memang benar! Sari akan membawa babak baru setelah tiga bulan Si Eta tidak berdaya sebab tidak bersamanya. Ia mulai beranjak. Kedua matanya menyelidik ke setiap pintu kereta, satu persatu ia runtut jeli. Satu persatu penumpang yang turun ia tatapi penuh perhatian.

Satu masa baru saja terlewati sewaktu kereta itu mulai berhenti dan kemudian berjalan lagi menuju stasiun lain. Sari belum ada di pelupuk mata. Si Eta grusa-grusu. Matanya tetap menegang jeli. Terkonsentrasi penuh, mencari. Ia meraih hp-nya. Dengan sedikit tak mengerti, mungkin kesal, ia mencari phone namber Sari lalu menghubunginya. Sial! Hanya dengung monoton yang terdengar. Hp Sari tidak aktif! Sejenak cepat sisa-sisa kedatangan kereta membekas dengan ketidakmafhuman. Ada yang mulai hancur-bertabur meninggalkan pesta pora di dalam hatinya.

Mmmcckk … “ Setiap yang meninggalkan pesta pora mengeluh tak menentu. Pun jiwa diri Si Eta sendiri. Ia telah kehilangan begitu banyak tamu di dalam hatinya. Menjadi sepi. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan dirinya dan Sari. Mungkinkah Sari sudah mengerti bahwa aku telah menunggunya sedari satu jam lalu? Benarkah? Lalu apa pesan di sms tadi juga berita kerinduan Sari seperti aku yang sedang merindukannya?! Si Eta terus berkecak resah. Ia mencoba menghubungi Sari lagi. Tetap saja percuma! Hp-nya tidak aktif.

Tit tit tit tiitit tit tit tit tiitit ....

Satu sms datang lagi. Ternyata bukan Sari! Orang yang belum pernah ia kenal meninggalkan satu pesan di hp-nya. Entah siapa.

Leh nalan gak …

Si Eta cepat-cepat menghapus message itu. Bukan pesan ini harapanku! Perlahan ia mengendorkan ketegangan. Ia kembali duduk di bangku, seperti semula ketika menunggu meskipun saat ini ia masih menunggu. Namun jelas beda! Pesta di dalam hatinya sudah bubar! Terganti dengan satu peristiwa tak mengenakkan ketika ia semakin tak menemukan di mana Sari. Apakah benar ia adalah Sari, yang mengirim pesan tadi. Lalu siapa pemilik pesan yang kedua tadi? Atau Sari punya nomer baru! Dan ia ngerjani! Ada satu-satunya jawaban yang masih bisa ia jawab: entahlah!? Namun satu kali lagi, bukan pesan ini ketakberdayaanku!

Sesaat kemudian suara lagu es lilin berbunyi dari hp-nya. Nah ini dia baru … Sari. Ini dia ring tone khusus nomor Sari. Ia mengangkat hp-nya. Dan benar!

“Di mana kamu? Aku sudah lama menunggu!” Si Eta menyela-buka pembicaraan. Sari diam tak menjawab.

“Halo! Halo! Sar! Apa kamu mendengar suaraku! Halo! Halo! …” Tuuuuuuuuut! Pembicaraan terputus. Namun, semakin ada yang mengganjal entah benci, mangkel, bahagia atau malah ketiga-tiganya sedang bercampur satu ketika sesaat kemudian Sari menjawil kuping Si Eta dari belakang. Sebenarnya Sari sudah cukup lama memperhatikan ketakberdayaan Si Eta dari arah belakang saat Si Eta sedang duduk dan merindu dengan sebal.

Tit tit tit tiitit tit tit tit tiitit ….

Satu pesan lagi datang. Si Eta bingung. Antara pesan dan sosok Sari. Si Eta harus memilih satu untuk ia dahulukan.

“Itu ada pesan! Mbok dibuka dulu!” Perintah Sari lembut. Kemudian ia duduk di sebelah Si Eta dengan sangat menjaga sikapnya yang tidak seperti tiga bulan yang lalu dan sebelumnya. Sari telah berubah! Dan membuat Si Eta tidak mengerti. Ada kenyataan baru menghampirinya! Ada tantangan terbaru yang membuat Si Eta semakin tidak mengerti siapa dirinya dan juga sosok Sari yang baru. Si Eta kemudian membuka pesan itu dengan muka masam! Namun Sari tampak biasa. Seakan ia sudah mengerti atau sudah sangat paham setiba di stasiun, setelah bertemu, pertama kali yang akan ditemukan Sari adalah ketakmengertian Si Eta atas dirinya yang telah berubah. Begitu perkiraan yang sudah terpikirkan semenjak ia memutuskan untuk memakai jilbab dan kembali mengarungi samudra cinta-Nya, bukan cinta-nya. Atau, bahkan Si Eta sudah mengganggap Sari sebagai seseorang yang telah mempercayai Tuhan secara berlebihan. Sari sangat mengerti –penuh sadar- penilaian itu sebenarnya adalah penilaian yang mereka buat bersama saat barang kemarin dulu, beberapa bulan yang lalu, mereka bertemu dengan wanita berjilbab. Tapi kini Sari telah berubah. Nasehat dan bimbingan keluarga selama berlibur tenyata mengembalikan Sari menjadi manusia semula, seperti ketika ia dilahirkan dan diperkenalkan Tuhan oleh kedua orang tuanya. Ia sudah siap dengan perubahan yang akan terjadi dari mata kekasihnya, Si Eta. Tapi kini ia sangat tak merasa pantas mengunakan nama Si Eta untuk memanggil kekasihnya. Tadho! Nama itu mulai bersuara kembali, seperti ketika mereka baru bertemu dan saling kenal.

“Coba lihat sms-nya tadi. Dari siapa, Dho?” Sari meminta Si Eta memperlihatkan pesan yang baru datang. Pertama kalinya Si Eta sangat canggung ketika akan menjulurkan hp-nya ke tangan Sari.

Kok belum dibales! Aku serius lho nalan dengan mu … ;-)

“Siapa ini, Dho!” Tanya Sari cemburu.

***

“Dia memang ada, Dho! Meski seumur hidup kamu paksa otakmu hanya untuk satu inginmu itu: membuatmu percaya jika tampak. Tetap percuma, Dho! Percuma! Lebih baik simpan energimu itu, gunakan untuk memikirkan lain, yang lebih pantas. Sebab sungguh ada yang lebih pantas untuk kamu akui dari nuranimu sendiri bahwa sejujurnya kamu pasti percaya. Hanya saja kamu lebih menuntut bukti yang tak mungkin terpenuhi. Karena, itu bukan hakmu! Apapun keputusanmu aku tetap akan menjadi diriku yang telah menemukan satu hakekatku sebagai manusia. Aku rela satu milikku telah kau renggut! Aku sudah ikhlas, Dho. Aku ikhlas demi satu Tuhanku yang akan abadi menemaniku di mana saja aku berpikir dan berada!” Sari melonjak marah setelah mendengar keluhan Si Eta yang sedikit banyak telah membuat Sari terkesan hina.

“Di mata Tuhan aku takkan pernah hina Dho, sebab kini yang kulakukan bukan lagi hal yang sia-sia. Memang Dho, kita pernah merasa hina sama tapi semua itu masa laluku yang telah mati, Dho. Aku pun sudah tidak akan bertemu bahkan tak ingin menziarahinya lagi!” Sari memperjelas apa yang sedang terpendam memendam sakit setelah berkali-kali Si Eta menghina sosok Sari yang telah berubah. Namun betapa mungkin, Sari sangat tidak rela melihat Murtadho masih mengenakan nama Si Eta yang atheis. Ia merasa berdosa bahwa karena Sari-lah, Si Eta semakin menemukan dirinya sebagai orang yang atheis.

“Lantas bagaimana dengan eksistensiku di kampus. Jika semua teman-temanku mengerti kamu telah berubah. Apa kata mereka nanti!” Si Eta mencoba membela diri.

“Aku mohon kamu mengerti perasaanku, Sar!” Pinta Si Eta kembali. Suara teduh mengetengahkan kehancuran yang segalanya telah tersusun begitu damai. Ada meriam-meriam menggelegar, saling menghantam musuh-musuh argumen yang sedang berperang demi memenangkan masing-masing keyakinan.

Senja yang teduh. Mega-mega merah merata. Cuaca cerah, terang. Namun di teras rumah itu kabut-kabut sedang menyelimuti mereka. Si Eta diam. Tak ada kuasa yang bisa merubah Sari kembali. Satu keyakinannya sudah ia genggam kuat. Walau memang, sungguh, di mata Si Eta Sari masih menjadi kekasih yang sangat ia cintai. Tapi apakah cinta harus menang sementara dirinya sendiri akan hancur di mata teman-teman sekampusnya. Beranikah aku meninggalkannya demi Si Eta-ku yang atheis! Pertanyaan itu bergelimang tak menentu sampai hari akan menjelang malam.

Sari sudah pulang. Kini Si Eta sendiri termenung. Sesaat melihat daun-daun berguguran dari sela-sela keremangan malam yang akan menuju ke pertengahan.

Apa yang harus kulakukan! Bentaknya dalam hati.

Tit tit tit tiitit tit tit tit tiitit ….

Satu pesan datang. Si Eta tergugah dari ketermenungan. Si misterius mengirim satu pesan lagi.

Lg ngapa? Kok belum dibls? Aku kangen nih …

Dalam gelisah cintanya, tanpa pertimbangan Si Eta mencoba menghubungi si misterius itu. Namun entahlah … setiap kali ia menghubungi jaringan pasti sedang sibuk. Atau malah terkadang tak ada suara. Tapi anehnya pesan selalu saja masuk padahal jaringan selalu sibuk.

Nmku Udin. Kamu?

Si Eta menyimpan namanya untuk pengirim pesan misterius itu.

Km blm saatnya mengerti. Yg pasti aku sdh sngat mencintaimu … :)

O.. Ya. Kok bisa wong kita bertemu sj blm pernah!? Tp gpp kok. Ketemuan yuk! Aku akan mempertimbangkan cintamu stlh kita bertemu nnti. Gmn?

Boleh!? Benarkah? Sungguh km sedang terjaga saat mnliskan ini …

Yup… Tp btw sapa sih namamu?

Sori, aku blm bs memberitaumu. Tp apakah ada yang akn berubah setelah kita nanti bertemu?

Maksudmu?

Apkh jika imajimu tdk seperti yg km bayangkan. Apa km jg akn berubah!

Si Eta sengaja tidak meneruskan. Atau lebih tepatnya tidak mengerti musti menjawab apa atas pertanyaaan terakhir tadi. Ketakmengertian dan rasa kecewanya kepada Sari perlahan punah saat sms dari si misterius datang tak menentu tak mengenal waktu. Ada harapan baru walaupun masih menyelinap entah di mana. Yang pasti Si Eta sudah menaruh harapan bagi pengirim sms misterius itu. Barangkalikah pengirim sms misterius itu bisa menggantikan Sari, yang selalu mau mengikuti jalan pikiranku. Tapi bilakah tidak! Entahlah … cinta merupakan hal yang sangat berharga di mata Si Eta. Tanpa cinta gairah hidup menghilang begitu saja. Namun apakah bisa, cinta tumbuh dari pesan sms, yang lalu menjadi cinta yang nyata tidak hanya semata maya. Harapan itu hadir walau sebenarnya -dengan jujur- Si Eta masih sangat mencintai Sari. Namun apalah daya. Si Eta mulai tertekan dengan berita-berita baru yang mulai berkembang di kampus.

“Percuma saja jadi atheis kalau pacarnya sendiri seperti itu!”

“Tokoh materialis yang gagal membawa pemikirannya. Ia tak bisa membawa pacarnya untuk ke arah sama!”

“Ah… macam apa Murtadho. Atheis yang tak jadi. Masak orang yang atheis punya pacar yang seperti itu.”

Berita-berita seperti itu berhamburan pelan namun memekakkan telinga Si Eta. Di sudut manapun, ketika teman-temannya sedang bergerombol, satu-satunya pembicaraan yang sedang hangat dibicarakan adalah tentang Si Eta semata. Nama kebanggaannya semakin hancur tertelan oleh sosok Sari yang telah berubah.

Si Eta tak kuat dengan reruntuhan itu. Derit-derit damainya pasir terusik burung-burung kelana yang mengusik ketenangan lautan untuk semakin bergelombang, menjelma farji-farji merangsang merusak wajah daratan yang selama ini ia mengerti dan yakini tentang ketakpercayaannya kepada Tuhan. Berkali-kali ia menutup telinga. Namun tetap saja berita itu mampu menyusupi setiap celah jemari dan menusuk genderang, lalu pecah menumbuki perasaan di pedalaman jiwanya. Si Eta semakin tersiksa. Hingga satu keputusan demi nama kebanggaannya ia susun untuk memutuskan cintanya dengan Sari. Toh sedikit banyak ia sudah mempunyai harapan baru: cinta dari si misterius itu!

***

“Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu. Sebenarnya aku pun merasa malu sewaktu di kampus. Berita-berita itu sangat menusuk telingaku. Tapi aku lebih malu lagi kalau Tuhan tidak lagi mencintaiku. Sekarang terserah kamu, Dho!”

Si Eta diam setelah mengeluarkan keputusan untuk tidak bersama Sari.

“Jika memang itu keputusan bulatmu. Semuanya kuserahkan kepada yang paling berhak atas hidupku!”

Si Eta meninggalkan Sari. Tak menggubris perkataan Sari. Ia baru saja mengeluarkan kekuatan besar. Yang pasti telah membuat jiwanya lemas, yang lunglai setelah berkali-kali ia mencoba melupakan Sari namun tak bisa. Pergi! Enyahlah kau dari hatiku! Begitu hati Si Eta memekik.

Sosok Sari memang sudah terbuang. Namun kenangan-kenangan bersamanya masih bergelantungan di tiap nyiur yang tumbuh di dalam hatinya. Masih tak terpejam dikala malam. Masih tak sirna dari perkebunan yang baru saja ia bangun setelah satu perkebunan hancur, melebur pada air perasaan. Si Eta masih menyangkal kalau memang satu kenyataan telah ia putuskan demi satu nama kebanggaan.

Semalaman Si Eta tidak bisa tidur. Sebagian waktu di malam itu, ia habiskan pulsa untuk mengirim sms kepada pengirim yang masih saja misterius setelah sedari tengah malam tadi ia memulai menghubungi Si Eta. Seakan kekecewaannya bisa terbayar oleh pulsa sms itu. Ada sedikit rasa bahagia. Seakan ada cinta baru yang akan ia tambatkan walau masih terasa maya.

Gmn kbrmu? Lg ngapa?

Tau aja dia. Aku lagi suntuk gini. E .. ia datang! Pikir Si Eta.

Baik. Lg bengong. Km?

Lg mikirin km. Aku kangen nih … :)

: ) Hmmm gmn ya .. bgmn bs kangn? Kita kan belum pernah ketemu …

Kan sudah kubilang. Aku mengerti sapa km. Benarkah tidak ada yg akan berubah setelah kamu mengerti aku?

Sori aku coba berpikir realistis aja. Kl dari sms-mu sih aku tertarik. Dan juga akn seperti itu, mungkin, bl kita sudah saling temu!

O … begitu. Sungguhkah ‘mungkin’mu itu sudah lbh dari separuh keyakinanmu atasku?

Mungkin … :) Btw, aku makin penasaran nih ama km? Kpn kamu ada waktu? Ketemuan yuk!

Sungguh km menginginkan pertemuan. Apa km jg akn malu dan segera meninggalkanku setelah nanti kita ketemu dan aku tdk seperti yang km bayangkan!

Ok lah besok pg aku hubungi km lg. Met malam. Have a nice dream!

Ok bye …. ;-P

Dalam remang-remang yang buta Si Eta menyengaja tidak memejamkan mata di malam itu. Ia ingin segera bertemu dengan pengirim misterius itu. Dan satu keputusan akan dikeluarkan lagi. Apakah ia akan menerima atau malah akan semakin terpuruk. Sosok Sari sesekali terlintas. Tapi malam itu hanya terpantul lemah pada kaca yang tertempel di dinding hatinya. Ada yang memantul lebih beringas: harapan yang berjejal tentang pengirim misterius itu. Cinta memang membuat dirinya tidak seperti ketika ia memimpin rapat atau berdemo. Sosok Si Eta terlihat lemah dan tak mampu berbuat apa-apa setelah cinta memporak-porandakan kehidupannya.

Angin malam menyurut pergi. Berganti dengan surya pagi yang mulai meninggi. Si Eta segera meraih hp-nya dan memencet-pencet tombol hp: mengirim pesan.

Met pg say … Gmn jd gak? jam brp? Dmn?

Eh km … Met pagi juga… Km serius nih…

Yup… Sangat serius!

Benarkah km sdh siap bertemu dgnku?

Yup …Gak usah khawatir! Aku dah memikirkan matang2 kok!

Ya sudah kl keputusnmu sudah bulat bgitu. Ok! Aku skrng akan menuntunmu ke mana, melalui jln mn km bisa menemuiku!

Ok! Tp yg jelas ya …

Pertama km mandi dulu. Dah belum? Biar suci dan harum…

Dah. Trus gmn? Yg serius dong!

Ya aku serius. Trus km bangunkan segenap hatimu yg mati itu …

Mati bagaimana? Langsung aja gak usah bertele-tele. Dmn km sekarang!

O… Jd km ingin sprt itu?! Yang sabar ya… Sungguh! Yang semacam itu keliru yang kerap membodohimu. Percuma, Ta! Bgmn km akan bertemu dngnku kl selama ini kamu tidak pernah mengakui kekuasaanku. Percuma, Ta! Percuma! –Tuhanmu-


Jogjakarta, 2002

Senin, 28 April 2008

KISAH AYAM

Sambil mengengkrami telur-telurnya Si Betina berharap-harap cemas menunggu Si Jantan pulang. Bagaimana tidak! Meski Si Jantan sangat terkenal sebagai petarung kondang bukan berarti nasib baik akan selalu berpihak kepadanya. Roda kehidupan tetap berputar! Kemungkinan buruk bisa datang tanpa persetujuan tanpa perencanaan. Bisa saja sekarang Si Jantan sedang sekarat, terkapar, atau mungkin sedang menjerit-jerit dengan luka memar di kepalanya. Si Betina sangat tidak mengharapkan itu! Sudah hampir satu tahun mereka bersatu. Apalagi dengan telur-telur yang sedang diengkraminya itu. Si Betina tidak mengharapkan telur-telurnya akan menetas tanpa ayah. Sangat tidak lengkap rasanya hidup dalam ketakpastian kasih sayang. Seperti yang pernah dialami Si Betina sewaktu masih kecil dulu.

“Cepat lari! Cepat! Jangan pernah kembali! Suatu saat kamu pasti akan mengerti!”

Begitu ucapan yang masih diingatnya sewaktu kedua orangtuanya hendak disembelih pada ada acara khitanan anak jenderal. Dan saat itu-lah awal! Si Betina mulai merasakan bagaimana hidup tanpa orangtua. Sewaktu hujan segera saja meneduh. Sewaktu panas segera mencari pengayoman. Dan sewaktu lapar segera saja mencari sisa-sisa makanan di pasar yang sudah bubar. Keras! Perjalanan hidupnya tidak menentu. Bahkan Si Betina sering tersisih oleh ayam-ayam lainnya yang sudah besar sewaktu berusaha mencari makan. Bila begitu, dengan ketakberdayaan Si Betina hanya melongo sambil berharap barangkali masih ada yang tersisa untuk dimakan. Malah sering pula penantiannya sia-sia. Tak ada makanan yang tersisa! Dengan begitu, berarti Si Betina harus pindah tempat lagi entah di warung makan atau entah di halaman rumah orang untuk mencari dan bisa makan.

Setelah tumbuh menjadi ayam perawan cantik, kehidupannya pun masih tidak mudah. Si Betina sering digoda ayam-ayam jantan. Bahkan ada yang hendak memerkosanya sewaktu ia berteduh di bawah pohon saat hujan dan malam. Dan seketika itu juga ia berlari meski diam-diam dinginnya malam dan hujan membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Hidup memang terus berputar. Ada saja cobaan yang selalu datang. Si Betina juga pernah dikejar-kejar manusia kelaparan yang hendak menangkapnya. Mungkin hendak digoreng atau dibakar. Namun ketika itu nasib baik berpihak kepadanya. Ia selalu bisa menyelamatkan diri. Hingga suatu ketika akhirnya tertangkap pencuri ayam.

“Lumayan! Bisa menambah penghasilan!”

Si Betina merinding ketakutan. Namun setelah diletakkan di dalam kandang sedikit banyak ia mulai bisa tenang. Meski kembali dikekang setidaknya masih bisa hidup untuk hari-hari ke depan. Namun itu hanya berlaku untuk hari pertama saja rupanya. Pada hari-hari selanjutnya, semakin banyak saja yang datang dibawa pencuri ayam itu ke dalam kandang baik itu betina maupun pejantan. Perjuangan untuk mencari makan pun kembali tidak gampang. Setiap kali pencuri ayam itu memberi makanan, ayam-ayam itu sontak berebutan, saling tubruk-menubruk, saling senggol-menyenggol, bahkan seringkali ada yang mengancam Si Betina untuk menyerahkan makanan meski sudah akan ditelan. Maka tidak jarang, Si Betina terpaksa harus menahan lapar sampai pencuri ayam itu kembali memberi makanan, yang tentunya belum pasti pula apakah ia akan mendapatkannya atau masih akan menahan lapar. Semakin hari badan Si Betina semakin kurus, terlihat seperti tersusun hanya dari tulang belulang. Si Betina sering batuk-batuk. Bulu-bulunya pun tak seindah dulu. Banyak yang sudah rontok. Sebagian badannya ada yang sudah botak. Karena itu Si Betina sering diejek ayam-ayam lainnya.

“Awas jangan dekat dengan ayam kudisan!”

“Hi ... Perawan kerempeng! Kasihan deh loe!”

Si Betina hanya bisa diam. Namun, dengan keadaan itu rupanya malah membuat pencuri ayam itu jadi memperhatikan. Pencuri ayam itu kemudian menempatkan Si Betina ke kandang lain karena dianggap penyakitan. Takut menulari ayam-ayam lainnya. Dan di kandang itu Si Betina menjadi bisa melahap makanan sesukanya, sekenyangnya, tanpa khawatir akan ada yang merebutnya. Bahkan pencuri ayam itu pun sering memberinya vitamin. Namun, setelah Si Betina kembali pulih, badannya kembali gemuk, batuk-batuknya hilang, bulu-bulunya kembali indah, rupanya sikap pencuri itu mempunyai maksud, apalagi kalau bukan kepentingan uang! Si Betina kemudian dibawa ke pasar hewan. Dan di pasar itu terjadilah tawar menawar. Dan akhirnya, Si Betina dibeli dengan harga mahal. Si Betina pada mulanya mencemaskan. Khawatir kalau saja keadaan di rumah pembelinya itu masih sama dengan keadaan di kadang milik pencuri ayam. Namun, setiba di rumahnya, pembeli itu langsung membawanya ke kandang. Si Betina beralih bisa membuktikan. Si betina diletakkan di dalam kandang bersama Si Jantan yang ketika itu di kepalanya sedang babak-belur, terluka, dan memar. Dan ketika itu-lah awal mereka mulai saling kenal. Si Betina menceritakan perjalanan hidupnya. Begitu juga dengan Si Jantan, ia menceritakan sampai kenapa kepalanya babak-belur, terluka, dan memar.

“Aduh ... kenapa harus menjadi ayam aduan?”

“Sudah menjadi tekadku!” Jawab Si Jantan.

“Tapi bagaimana kalau kamu akan terluka terus seperti ini?”

“Kamu-lah yang akan merawatku!”

Si Betina tersipu malu mendengar ucapan itu. Si Betina menjadi ada perasaan yang lama kelamaan menjadi persetujuan. Mereka kemudian saling mencintai. Namun, dengan cinta itu bukan berarti Si Betina setuju dengan profesi Si Jantan. Si Betina terus berusaha menolaknya meski Si Jantan masih selalu tak menggubrisnya. Karena itu setiap kali Si Jantan pergi untuk sebuah pertarungan Si Betina selalu tidak tenang. Keadaan yang tak diharapkan!

***

Berulangkali Si betina melongok ke luar kandang. Tidak seperti biasanya. Padahal senja sudah datang. Si Betina kembali mengengkrami telur-telurnya. Lampu kandang pun sudah dinyalakan. Beberapa saat kemudian, antara senang dan resah, telur-telur itu menetas satu persatu. Si Betina terharu melihat bagaimana anak-anaknya lahir pertama kalinya melihat dunia.

“Ibu ...”

“Mama ...”

“Umi ...”

Si Betina tersenyum mendengar anak-anaknya memanggil meski dengan ungkapan yang berbeda-beda. Segera Si Betina memeluk anak-anaknya memberi kehangatan sambil meresahkan Si Jantan yang tak kunjung pulang. Namun, beberapa saat kemudian pemandangan pilu kembali menghentakkan. Kini lebih kejam! Pembelinya itu pulang membawa Si Jantan yang terkapar di dalam kandang. Meletakkannya, kemudian berjalan ke dalam rumah. Si Betina sontak berusaha keluar dari kandang, namun jeruji yang terbuat dari susunan bambu itu tak bisa dilewatinya.

“Ada apa Ibu?”

“Ada apa Mama?”

“Ada apa Umi?”

Si Betina tak menjawabnya. Si Jantan pun tak bisa berkata-kata. Hanya bisa terkapar dengan kedua matanya yang berhasil melirikinya sambil tersenyum tak berdaya. Kepalanya bersimbah darah. Bulu-bulunya rontok. Dan beberapa saat kemudian pembelinya itu datang bersama istrinya.

“Sembelih hari ini juga, sebelum mati!”

“Betinanya juga?”

“Jangan! Besok kita jual untuk melunasi hutangku kepada bandar! Ambil pisaunya sekarang!”

Si betina tersentak mendengarnya. Anak-anaknya semakin tak mengerti.

“Siapa itu, Ma?”

“Siapa, Mi?”

“Kenapa kepalanya banyak darah, Bu?”

Si Betina semakin tertusuk. Tak mudah menjawabnya. Apalagi melihat Si Jantan yang masih saja memperhatikannya, juga anak-anaknya dengan diam dan mulai berair mata. Bibirnya komat-kamit seperti akan mengatakan sesuatu namun tidak mampu. Si Betina pun sontak mengambil keputusan, seperti yang pernah dialaminya dulu.

“Pergi, Nak! Cepat, lari!”

“Kenapa, Ma?”

“Ada apa, Bu?”

“Kenapa harus lari, Mi?

“Cepat lari! Cepat! Jangan pernah kembali!”

“Kenapa, Ma?”

“Cepat! Cepat lari! Jangan tanyakan itu! Suatu saat kalian pasti akan mengerti!”

Anak-anaknya kemudian berlari. Istri pembelinya itu pun sudah kembali dengan pisau mengkilap di tangannya. Si Betina lantas menutup mata, menutup telinga, memalingkan muka, semakin mengucurkan air mata sewaktu tiba-tiba Si Jantan menjerit untuk yang terakhir kalinya.


Jakarta, 2004

KABAR BUNGA

Judul : Kabar Bunga
Penulis : Marsiraji Thahir
Penerbit : Qish-U (Kelompok Penerbit Pro-U Media)
Harga : Rp. 44.000,-

Wulan, perempuan salehah, menenteng kopor impian ke Jakarta. Ikhtiarnya, membantu keluarga di desa: ayahnya sakit, adiknya butuh biaya sekolah. Namun, nasib buruk diterimanya di hari pertama di Ibukota. Bukan uang yang diterima, tapi razia polisi di kawasan lokalisasi. Karena menginap di tempat yang salah, Wulan menjadi berita. "Wulan menjadi pelacur!" tuduh para tetangganya di desa, yang mendengar berita di TV.

Hidup Sabrina bergelimang materi. Sejak kecil Mama-nya memanjakan dengan harta dan harta. Tapi, bukan itu yang dicarinya. Sampai suatu saat ia bertemu dan mencintai seorang lelaki, hingga berujung pada pelaminan. Malang tak bisa dihindar, buah hati mereka dibunuh kawanan perampok. Ketika ingatan pada buah hatinya berangsur hilang, haruskah hati Sabrina hancur kembali karena masa lalu suaminya, yang selama ini tak terungkap?

Perempuan itu ingin hidup seperti perempuan pada umumnya. Sayang, orangtuanya justru "menjual"-nya, dengan alasan kemiskinan. Seorang lelaki yang "memakai"-nya membuahkan janin. Kelahiran yang tidak diakui si lelaki dan orangtua perempuan itu-Asih.

Tiga perempuan, tiga nasib, tiga narasi yang dipisah ruang dan waktu, pada awalnya. Namun, mereka dipertemukan pada tanya yang sama: ibu! Wulan tidak pernah tahu seperti apa ibu yang telah meninggal. Mengapa Mama tidak memedulikanku? Apakah aku anak pungut, tanya Sabrina. Dan, Asih punya kegalauan pedih: adakah ibu yang tega "menjual" putri kandungnya sendiri?

Dalam tanya, mereka seperti lembar-lembar kertas: berisi paragraf-paragraf, membentuk kisah dari koma ke koma lainnya, dari titik ke titik lainnya.

RUMUSAN CINTA TENTANG PERJALANAN

Perjalanan terkadang seperti perkalian angka-angka. Betapa jarak akan panjang jika mengalikan angka-angka kokoh satu dengan lainnya. Atau akan menjadi nihil jika digabungkan dengan angka-angka desimal. Sebab kepastian akan muncul dari angka satu, bukan lagi nol koma. Dari angka itu-lah perjalanan diberangkatkan, menelusuri satu kemungkinan ke dalam satu kepastian lainnya, yang tak lagi bisa bermain-main dengan bualan sewaktu masih mencapai bilangan-bilangan nol koma –-yang memusingkan, bahkan terkadang kita harus menggunakan kalkulator untuk mengalikan dan menghitung jejak perjalanan. Terlalu naif bukan?! Sementara kita sudah mempunyai komponen serba canggih, akal dan hati yang diupayakan dapat dinaungi-Nya. Namun, tetap saja, kita masih seperti tak percaya, dan masih saja tak mengerti betapa akal dan hati kita sebenarnya sangat mampu kalau hanya untuk memperhitungkan jarak untuk mencapai angka utuh, bilangan satu setidaknya. Kemudian kita jadi semakin tahu dari mana perjalanan kita berawal! Dari akal dan hati atau memang dari benda naif seperti kalkulator?

Huh, betapa meletihkan dan memusingkan, kalau perjalanan selalu diperhitungkan dengan angka-angka dan jarak. Karena itu pastilah seorang Tukul pun tiba-tiba akan memakai kaca mata tebal, di tangannya memegang sempoa sambil menjedug-jedugkan kepalanya karena merasa betapa rumusan jarak dan perjalanan semacam teka-teki yang tak bisa dipecahkan dengan sekejap saja. Apalagi kalau sudah dijejali dengan berbagai rintangan antara jarak satu ke jarak lainnya.

Bagaimana aku bisa menghitungnya, sementara angka-angka itu terlalu banyak dan penuh dengan koma! Minimal itu yang menjadi keluhan. Atau jangan-jangan kepusingan kita memang bukan karena jarak, tapi karena kita memang malas memperhitungkan, sementara ada dunia lain yang cukup spektakuler tanpa harus pusing-pusing memikirkan, pada jarak sekian kita pasti akan terkena demam, selanjutnya sakit lepra, selanjutnya sakit kepala, dan selanjutnya masuk rumah sakit jiwa. Dan kita sudah merasa bahagia dan menjadi orang yang ‘terlampau’ realistis sehingga yang akan kita masuki adalah dunia tukang sulap, yang dengan sekali membalikkan tangan, kita akan mendapatkan sebuah dunia indah, dunia woouwww yang tidak membuat sakit jiwa. Setelah ditiupkan mantra ke atas telapak tangan kita, kalkulator dengan sendirinya akan memperhitungkan jarak tanpa harus menggunakan akal dan hati kita. Dan kita terlalu termanjakan dengan nasib yang sudah ada di telapak tangan kita –yang kita dapatkan hanya dengan sekali menutup mata. Cling! Tiba-tiba saja kita sudah berada di sebuah dunia yang beda dengan kesenangan-kesenangan yang berbeda pula tanpa harus memikirkan sebenarnya sedang apa hati kita, sudah sejauh mana komitmen kita kepada Yang Menciptakan kita, dan seberapa besar yang sudah kita perjuangkan untuk tujuan kita! Jika begitu, apakah kita pantas menuntut ini-itu jika tiba-tiba kita ketinggalan kereta, sementara kita terlalu asik menutup mata! Atau kalau memang terlampau nista, berani-lah untuk mengatakan tidak, dan katakan juga: aku akan turun dari kereta, kasihan dengan orang-orang yang sudah bersusah payah memperhitungkan jarak dan keberhasilan! Meski begitu, besok pagi, tepat jam enam pagi, kereta tetap akan berangkat, tak peduli berapa banyak jumlah penumpangnya! Siapa yang memang butuh perjalanan, bersiap-siap dan datanglah, bahkan lebih awal sebelum pintu kereta dibuka, untuk menempuh jarak dan tujuan yang sesungguhnya!

MENUJU KREBET: BERBURU TOPENG PADA WAJAH SENDIRI

Sudah berkilo-kilo meter kereta Senja Utama melaju seperti membelah malam menuju Stasiun Tugu. Dinginnya malam, hembusan angin, rembulan yang terlihat di atas areal persawahan dari jendela kereta seolah tetap setia menemani, tanpa lelah, sampai akhirnya Stasiun Wates terlewati. Tidak seperti di kota metropolitan yang hingar dengan berbagai macam hal, sehingga indahnya malam, rembulan, dan taburan bintang selalu tertutupi polusi yang semakin hari semakin menebal dan tak teratasi. Tuhan seolah tak mau lagi menunjukkan betapa indahnya seisi langit di malam hari kepadanya, sebelum masyarakatnya kembali berteduh di bawah langit yang terperi, seperti dalam perjalanan dengan kereta Senja Utama ini. Dan aku merindukan semua ini!

Malam berganti pagi. Berganti pula aura kuat yang menghawai. Sebuah kejujuran dan ketenangan mulai aku rasakan kembali. Para penumpang mulai berbenah, mengambili barang-barang bawaan, terlebih mempersiapkan perjumpaan dengan Jogjakarta kembali. Perjumpaan yang pasti akan memberi banyak petualangan, hal baru, dan kenangan yang sama sekali tak bisa dilupakan di kemudian hari.

Sembari mempersiapkan barang-barang bawaan, para pengamen-pengamen pun mulai mendendangkan lagu dengan gaya khas Jogjakarta. Semakin lengkap sudah suasana dikondisikan –bagaimana Jogjakarta akan menyambut setiap tamu, pendatang, atau warganya sendiri. Gedung-gedung pencakar langit yang kulihat setiap hari di kota meteropolitan kini terganti dengan hamparan sawah dan rumah-rumah warga yang sederhana. Terlebih dengan bagaimana warga Jogjakarta menyapa. Unggah-ungguh, kesopanan, dan kelembutan seperti menjadi hidangan pertama yang kudapatkan. Keakraban pun mulai terjalin sewaktu mulai kudengar dialek khas Jogjakarta. Sungguh, perlakuan yang sangat berbeda dengan kota mana pun juga! Apalagi sewaktu aura Jogjakarta seperti membuat kami –para penumpang yang mulai beranjak dari tempat duduk dan mulai merapat ke tepi pintu kereta- semakin akrab saja. Kami mulai menyapa, meski di sepanjang perjalanan masing-masing hanya diam. Luar biasa! Aura Jogjakarta seolah mampu membuat kami semakin akrab satu sama lain. Dan hal itu tak mungkin bisa terjadi di kota meteropolitan yang selalu saja mengedepankan ketakutan dan curiga terhadap siapa pun juga –apalagi orang yang belum pernah dikenal dan yang mencoba mengakrabinya. Tapi hal itu berkecenderungan tidak berlaku di Jogjakarta. Kecurigaan, kekhawatiran, dan rasa aman menghilang begitu saja. Dan semuanya berjalan seperti adanya tanpa harus berprasangka!

Sembari menunggu kereta sampai di Stasiun Tugu para penumpang pun asik menyambung cerita. Di sebelahku kudengar: ternyata mereka pernah kuliah di Jogjakarta dan di kampus yang sama. Kemudian di sebelahnya lagi kudengar: ternyata mereka hendak mengunjungi saudaranya yang berada di desa yang sama kemudian salah satunya menawarkan bersama-sama untuk sampai di desa tujuan sebab salah satu saudaranya sudah ada yang menjemputnya. Jadi sampeyan tidah usah repot menggunakan taksi, begitu katanya. Dan aku menjadi semakin nyaman dengan suasana seperti itu. Aku sangat haus akan hal itu setelah sepanjang hari kota metropolitan hanya menyuguhkan cara hidup yang ‘sendiri-sendiri’ juga siapa cepat siapa dapat dengan cara apa pun! Kecurigaan dan kekhawatiran yang seringkali mendekap di dadaku kini semakin tersembuhkan. Sebuah kelegaan yang luar biasa! Kemudian setelah aku juga asik ngobrol sana-sini, sampailah di salah satu pintu gerbang Jogjakarta: Stasiun Tugu.

***

Setelah rehat hari itu aku akan memulai petualanganku. Aku penasaran dengan Desa Wisata Krebet. Meski sudah beberapa Desa Wisata di Jogjakarta aku kunjungi pada kesempatan-kesempatan sebelumnya, tapi dari informasi yang kudapatkan, Desa Wisata Krebet menyuguhkan sesuatu yang beda dengan lainnya! Bahkan temanku pernah bilang, kalau mau mengerti seperti apa wajahmu, datang-lah ke desa Krebet, karena di sana kita bisa mewajahkan wajah kita dengan topeng-topeng sebagai hasil kerajinan tangan yang dibuat oleh sebagian besar masyarakat desa Krebet! Bahkan lebih puitis lagi temanku bilang: di Krebet-lah topeng-topeng manusia diwajahkan! Wow, kubilang. Kalau begitu, bukankah, topeng-topeng yang selama ini kupakai untuk bertahan dan melawan perubahan di kota metropolitan akan bisa kulihat seperti apa wajahnya di sana! Sungguh, aku semakin penasaran saja. Karena tempat itu-lah tujuanku kali ini sebelum menjelajahi tempat-tempat lain yang pasti juga mempunyai keunikan tersendiri!

Aku lantas meluncur menuju Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, yang terletak kurang lebih 12 kilo meter sebelah barat daya dari Yogyakarta. Perjalanan kali ini tak kalah menariknya dengan perjalananku di sepanjang perjalanan di dalam kereta Senja Utama. Meski aku tak bersinggungan dengan orang lain, tapi suasana di sepanjang perjalanan seperti sudah mengajakku bercerita. Di sepanjang jalan Bantul berpuluh-puluh orang mengayuh sepedanya untuk bekerja di kota –Jogjakarta. Bayangkan, betapa dengan ihlasnya masyarakat Bantul mengayuh sepedanya berkilo-kilo meter untuk mencari nafkah di kota. Sebuah perjuangan yang luar biasa! Meski sebenarnya juga ada metro mini atau angkutan tapi mereka masih memilih untuk mengayuh sepedanya. Pemandangan itu sangat beda sekali dengan keadaan orang-orang metropolitan yang lebih cenderung memilih kepraktisan. Bahkan aku sendiri juga tak yakin bisa melakukan seperti yang dilakukan sebagian warga Bantul itu. Meski begitu, aku juga yakin, setiap kayuhan mereka pasti mendapatkan pelajaran yang tak akan didapatkan oleh siapa pun yang tak pernah ‘beritual’ seperti mereka setiap harinya.

Huh, sungguh, kali ini aku mendapatkan sesuatu yang penting untuk direnungkan! Apalagi dengan cara ‘berhidup’ yang mereka lakukan. Benarkah, sebenarnya mereka-lah manusia-manusia yang hidup dengan kejujuran tanpa harus menggunakan topeng-topeng hanya untuk menjadikan dirinya menang. Meski padahal di lain hal mereka-lah yang sebenarnya menjadi pemenang dalam berbagai macam benturan berubahan jaman yang terkadang sulit dirumuskan. Sungguh, sangat apa adanya! Setiap inci demi inci kayuhan kaki mereka pasti mempunyai makna yang dalam. Keringat yang mentes di setiap pori-pori mereka pasti memberi energi tertentu yang belum tentu semua orang bisa sekuat mereka. Wajah-wajah mereka yang memancarkan kepasrahan selalu terlihat lebih tersenyum penuh kelegaan. Dan hal itu sangat luar biasa! Aku sama sekali tidak melihat keluhan-keluhan dari wajah mereka. Tegar! Kuat! Dan bermakna! Karena itu di lain hal yang kutangkap, meski para pemakai sepeda di Jogjakarta tidak seperti berpuluh tahun lalu, akan tetapi melihat kenyataan itu Jogjakarta tetap saja pantas mendapat predikat sebagai kota sepeda yang mempunyai kekokohan masyarakatnya!

Gapuro pintu masuk Kota Bantul pun terlewati. Kota Bantul juga tidak jauh beda dengan Kota Madya Jogjakarta. Bahkan setelah melewati kota-nya pun rupanya aku dikagumkan oleh bentangan-bentangan sawah yang tak kalah indah. Apalagi cahaya matahari pagi itu juga memberi warna tersendiri. Para petani menenteng paculnya sambil mengayuh sepeda atau berjalan melalui pinggiran jalan untuk sampai ke sawahnya. Bahkan sepagi itu sudah ada yang berada di tengah sawah dan mulai mengayuhkan cangkul mereka. Apalagi pada hari libur seperti hari ini. Rupanya mereka tak kenal ‘tanggal merah’. Setiap hari selalu berangkat ke sawah, bahkan berangkatnya lebih pagi dari para pekerja-pekerja kantoran. Dan aku yakin, kalau saja aku berada di kota metropolitan paling-paling jam segini sewaktu hari libur aku masih asik tidur atau melihat televisi dengan dalih istirahat lantaran sudah seminggu bekerja keras. Huh, masyarakat desa ternyata lebih ironis lagi. Seakan mereka tak mengenal keluhan, alasan untuk tidak bekerja. Coba Anda lihat saja gestur wajah mereka sewaktu Anda berkesempatan datang ke sana. Meski terlihat dalam, sudah menyimpan banyak hal di balik wajahnya, namun tetap saja senyum mereka seperti cerminan bahwa yang mereka kerjakan hanya semata berdasar pada kerja keras dan keihlasan!

Gunung Merapi yang akhir-akhir santer diberitakan karena ‘amukannya’ pun bisa terlihat jelas dari jalan itu. Kemudian aku melewati perbukitan yang konon dijadikan makam oleh warga. Hal itu pun baru aku tahu setelah aku berhenti, sembari membeli sebotol aqua, aku bertanya kepada penjualnya tentang kawasan wisata selain desa Kerebet. Bahkan menurutnya, sebentar lagi aku akan melewati bekas Kerajaan Mangir yang dulu pernah menjadi musuh besar Kerajaan Mataram. Tapi sekarang sudah tidak seindah dulu, paling-paling beberapa situs bersejarah yang masih ada. Itu pun sudah bercampur dan berada di tengah-tengah perkampungan warga, begitu katanya. Karena itu aku pun segera meluncur. Dan ternyata benar! Setelah sampai dan mencoba memasuki perkampungan Mangir, beberapa situs bersejarah peninggalan Kerajaan Mangir pun terlihat. Bahkan menurut cerita salah satu warga, di desa Mangir ada semacam legenda, tentang batu bata mangir. Dan hal itu sangat diyakini! Ucapnya: kalau ada orang yang dendam dengan sampeyan, ambilkan saja batu bata dari bekas bangunan mangir, kemudian letakkan saja di depan rumah orang yang menbenci sampeyan, nanti keluarga orang yang membenci sampeyan akan jadi tidak warah alias gila!

Selain itu salah satu warga Mangir pun bercerita tentang runtuhnya Kerajaan Mangir. Sembari ngopi di warung aku pun berusaha menjadi pendengar yang baik. Konon, katanya, Kerajaan Mangir adalah kerajaan yang tak tertandingi. Berulangkali Kerajaan Mataran menggempurnya namun selalu saja tak terkalahkan. Hingga suatu ketika Raja Mataram mengutus salah satu putrinya untuk berpura-pura menjadi ronggeng keliling. Dan sampailah Putri Raja tersebut di Kerajaan Mangir dan membuat Ki Ageng Mangir tergila-gila, mencintai, kemudian menikahinya. Setelah beberapa lama baru kemudian Putri Raja Mataram mengaku kalau dirinya adalah Putri Raja Mataram. Ki Ageng Mangir pun sontak kaget dan tak menyangka. Ki Ageng Mangir pun mengalami dilema sewaku kemudian Raja Mataram mengundangnya. Di satu sisi Ki Ageng Mangir adalah musuh Raja Mataram, namun di satu sisi adalah menantunya. Namun, akhirnya pun Ki Ageng Mangir memutuskan untuk sowan ke Mataram. Namun apa yang terjadi! Saat sowan itu-lah Ki Ageng Mangir terbunuh. Kemudian habislah riwayat Kerajaan Mangir yang terkenal tangguh itu. Bahkan, katanya, jasad Ki Ageng Mangir di makamkan di sebuah liang yang setengahnya berada di dalam wilayah Kerajaan Mataram setengahnya berada di luar wilayah Kerajaan Mataram.

***

Setelah lama ngobrol sana-sini dengan penduduk Mangir aku pun melanjutkan perjalanan ke tujuan: Desa Krebet. Dan rupanya Desa Krebet tidak jauh dari desa Mangir. Bahkan salah seorang penduduk desa Mangir pun bersedia mengantarkan. Jadi dalam perjalanan yang hanya sebentar menuju Desa Krebet dari Desa Mangir itu pun aku menjadi berdua. Dan katanya, ternyata Desa Kerebet selain pengrajin topeng para penduduknya juga pengrajin wayang, dan pernah-pernik kerajinan tangan yang kesemuanya berupa kerajinan batik dengan media kayu. Maka tidak heran jika Desa Krebet secara tidak langsung ikut andil dalam upaya Kraton Jogjakarta dalam melestarikan motif batik klasik. Seperti motif parangrusak, parangbarong, kawung, garuda, sidomukti, sidorahayu dan puluhan motif lain. Karena itu, aku pun semakin penasaran dan ingin cepat-cepat melihat secara langsung bagaimana Desa Krebet menjadi Desa Wisata alternatif di Jogjakarta.

Tak lama kemudian kami pun sampai. Sebuah pesona wisata alam, kesan pertama yang kutangkap begitu masuk ke Desa Krebet. Perkampungan itu dikelilingi oleh hutan yang memberi nuansa natural yang kental. Tekstur tanahnya pun berkapur dan semakin membuat Desa Krebet semakin tampak indah dan mempesona. Rumah penduduknya pun berdiri di kanan kiri lurung yang menjulur persis di tengah-tengah perkampungan. Bahkan di setiap rumah yang kami lalui hampir seluruhnya merupakan sanggar pengrajin. Benar-benar maju, pikirku! Bahkan katanya, meski sebagian pendudukanya tidak berpendidikan tinggi, namun secara ekonomi mereka lebih mapan dari para sarjana yang hanya mengandalkan ijazahnya, tak memiliki keahlian apa pun kecuali mengeluh, mengeluh, dan mengeluh semata. Di sana kita bisa tahu bagaimana dari tangan dingin mereka, dengan penuh kesabaran, mengukir hasil yang seolah dapat mewajahkan seperti apa wajah hati kita melalui topeng-topeng dengan segala bentuk dan rupa. Dan jika Anda ingin melihat kegigihan, keheningan yang menyala, semesta yang harmonis, sekaligus mengerti atau mewajahkan seperti apa wajah Anda yang sesungguhnya, silakan datang ke sana!

PENGECUT KEHIDUPAN

Pada awalnya sejumlah orang sepakat untuk menempuh sebuah perjalanan. Berbekal niat, tekad, dan kemauan. Karena itu juga sejumlah orang itu kemudian mensepakati untuk mempunyai kendaraan. Sepeda kumbang pun jadi! Syukur ada kendaraan yang bermesin. Jadi tak akan merasa terlalu lelah mengayuh setiap jangkah menuju sebuah tempat yang juga sudah disepakati akan menjadi indah. Sejumlah orang itu pun berkumpul –mirip bualan tentang impian. Tapi saat itu juga bualan-bulan itu nyaris menjadi kesempurnaan yang juga disepakati kembali untuk menempuh dan mencarinya –katanya tak boleh lelah!

Kemudian pada sebuah batas di mana sejumlah orang itu terlalu banyak membual, justru tiba-tiba saja bualan-bualan itu menghablur menjadi sebuah kendaraan –lebih dari sekedar sepeda kumbang! Lantas, secara mendadak dan tiba-tiba sejumlah itu orang kegirangan, bersorak-sorai di tengah malam. Kegembiraan itu seperti mampu membelah kesunyian malam, membangunkan setiap penduduk kota yang tertidur pulas, kemudian berbondong-bondong menuju pinggiran jalan menyambut sejumlah orang yang sedang akan memulai perjalanan itu –mirip karnaval. Sejumlah orang itu semakin kegirangan saja.

Dan mulailah, pada sebuah pagi yang girang, sejumlah orang itu mulai meninggalkan kehidupan lama menuju kehidupan baru yang sudah diperkirakan akan semakin banyak tetaburan bintang dan kesempurnaan tanpa meninggalkan dalih proses yang masih saja membuat sejumlah orang itu merasa gatal dan harus menggaruk kepala kuat-kuat –sampai lecet pun tak masalah, asal sejumlah orang itu bisa berangkat! Namun, entah kenapa, sewaktu baru beberapa meter meninggalkan kehidupan lama, kaki sejumlah orang itu tiba-tiba saja jadi kaku, jantung mereka semakin berdebaran –mirip ketakutan sewaktu sedang berpapasan dengan karnaval mobil-mobil yang basah karena bekas hujan. Sebagian besar pembersih kaca mobil-mobil itu pun masih bergerak untuk menghabiskan sisa hujan yang masih tertinggal di kaca depan.

Kemudian, tiba-tiba saja sejumlah itu, berpikir: pasti di sana sedang hujan deras! Itu buktinya, mobil-mobil yang sedang memapasi kita masih kuyup. Bagaimana dengan kita nanti! Toh di jalan sana kita akan terguyur hujan juga –bahkan lebih deras. Sejumlah orang itu, entah kenapa, tiba-tiba saja mendadak berpikir tentang kedinginan, tentang sakit yang akan menyerang sewaktu mamaksakan diri berjalan dalam hujan!

Sejumlah orang itu pun menjadi kelelahan hanya untuk memikirkan bagaimana caranya selamat dari hujan, selamat dari kedinginan, selamat dari pesakitan, tanpa mengerti bahwa di dalam hujan pun pasti akan ada keberkahan. Tapi tiba-tiba saja sejumlah orang itu berpencar, menyebar, berhenti di sebuah jalan dan memutuskan untuk menunggu hujan reda, padahal di tempat mereka berada belum ada hujan –masih dalam perkiraan. Ah, jika demikian, bukankah mimpi itu sebenarnya masih berbentuk bualan juga! Lalu apa bedanya dengan karnaval perayaan tujuh belas agustusan?!